• Jadi Navigator

    so kecil apapun kemampuan dan skill yang dipunya tentu itu akan bermanfaat buat orang lain, dan kemanfaatan itu nantinya akan menjadi burhan (bukti) yang akan mengantarkan kita ke surga...

  • Sepotong Senja Pantura

    Ombak laut kami begitu bersahabat, sehingga kami cukup menggunakan perahu kecil nan sederhana untuk mengarunginya untuk sekedar menyambung hidup

  • Sederhana

    sederhana itu cinta kita cinta yang disatukan semesta cinta yang ada sebab Tuhan mengingikannya....

  • Penghulu Istighfar

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ,

  • Mengejar matahari

    Selalu saja ada kenikmatan dan rezeki yang diberikan Allah pada hambanya, kita aja yang mungkin sering sombong dengan tidak bersyukur. Rezeki itu bukan cuma hal yang bersifat materi, tapi juga hal-hal yang bersifat abstrak, seperti kesehatan, dan kesempatan melihat keindahan ciptaannya... karena tak semua orang dapat memiliki dan merasakannya

  • Enter Slide 6 Title

    This is slide 6 description.

  • Enter Slide 8 Title

    This is slide 8 description.

  • Enter Slide 9 Title

    This is slide 9 description.

Sunday, August 21, 2016

Catatan Lebaran 2016

Akhirnya ada kesempatan buat nulis catatan lebaran tahun ini, meski sudah lama ada niat menuliskan ini di blog, karena sebab negara api menyerang dan menyelamatkan dunia dari peperangan, kesempatan nulis itu tak hadir. Jadi karena kali ini lagi selo, mari menulis..

***

"Fahmi, kenalkan ini Ja'far bin Mukhsin al-Attas dari Lebak Siu Tegal" Ami Manshur membuka pembicaraan di ruang tamunya.Beliau melanjutkan "Jiddah-nya Ja'far sama buyutnya Fahmi tu kakak beradik, jadi kalian ini masih saudaraan". Singkat cerita beliau menceritakan bahwa kami punya sejarah hubungan nasab dari pihak nenek di tiga generasi di atas kami. Obrolan pembuka itu membuka obrolan diskusi kami di silaturahim lebaran di Magelang tahun ini. setidaknya aku jadi tahu, bahwa kemanapun pergi ke komunitas Arab Alawiyyin di sekitar Jawa, pasti masih ada saudara yang masih punya hubungan darah dua atau tiga generasi di atas generasi saya saat ini, hanya saja lebih sering tidak tahu kalau sebenarnya kita masih bersaudara dekat. Dan Silaturahim menjadi jalan menjadi kenal dari mana kita berasal, dengan siapa kita masih punya hubungan darah, dan dengan siapa kita akan menikah. #eaa.. Khusus yang terakhir ini menjadi obrolan tak terelakan setiap lebaran, "ente udah nikah?. Atau paling tidak menjadi obrolan ibu-ibu untuk saling menjodohkan anaknya masing-masing. Seperti yang sudah saya singgung di tulisan terdahulu, menemukan jodoh dengan jalur orang tua lebih mudah dan bakal dimudahkan, karena masing-masing orang tua sudah mengenal sekian lama di komunitas yang mereka bangun, baik itu komunitas pengajian, rekan bisnis, teman sepermainan, dan sebagainya.

Selain hal itu, mengenal keluarga menjadi lebih detil memudahkan jika ada pertanyaan dari jejaring yang beririsan dengan keluarga. Misal, waktu itu aku pernah ditanya ustadz Umar Basyarahil, "Editor akhwat di Gema Insani ada yang akan menikah minggu depan, calon suaminya dari fam Alaydrus. saya lihat di undangan, ibunya itu Basyaiban. kamu kenal?"
"Tinggalnya di depok ya, ustadz?"
"Iya"
"Itu masih saudara saya, namanya Hadid Alaydrus, abahnya Amal Alaydrus dari Solo. Ibunya Hijriah binti Abdullah bin Mukhsin.
Jiddah saya namanya Fathimah binti Mukhsin. Jadi kami masih saudara dari bani Mukhsin"

Melekatnya nama fam (suku) di belakang nama itu memang bisa menjadi penanda identitas, sekaligus penanda dengan siapa kita masih bersaudara. Setidaknya untuk saudara-saudara yang masih terikat dua atau tiga generasi, meskipun sebenarnya di Alawiyin semua masih bersaudara jika ditarik dari semua keturunan as-Sayyid al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibn Alwy Ba'alawy. Makanya setiap tahun selalu disempat-sempatkan untuk silaturahim ke tempat di mana keluarga berkembang menjadi sebuah komunitas muwalad Hadrami yang cukup besar.

Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, pertanyaan mengenai bab pernikahan dan perjodohan masih saja hadir. Bahkan hadir dengan intensitas keseriusan dari para orang tua. Para orang tua bertukar foto anaknya dan saling berujar, "kita besanan ya". Gue masih selow aja kalau ditanya ummi atau temen ummi, "terserah ummi aja, aku manut (kalau cocok)" #haha. Karena gue terlalu selo, semuanya bisa berlalu begitu saja.

Lebaran masih begini-begini aja, mungkin tahun depan bisa lebih diseriusi pakai hestek #lebaranCariJodoh..

Semarang, 21 Agustus 2016
Fahmi Basyaiban

Tuesday, August 2, 2016

Pewaris Cahaya Kenabian

Terlahir dengan nama Muhammad Hasan, nama yang diberikan oleh seorang pengajar di Masjidil Haram yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri, Sayyid Alawy ibn Abbas al-Malikiy al-Hasany. Nama yang diambil dari dua nama leluhurnya yang mulia, Rasulullah Muhammad SAW dan Pemuda Penghulu jannah, Hasan ibn Ali RadliyAllahu 'Anhu. Al-Malikiy adalah mazhab beliau, penggunaan nisbah al-Malikiy menunjukan beliau berfiqh dengan madzhab Maliki. Al-Hasany adalah penisbahan pada nasab, nasab yang tersambung sampai Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib.

Sayyid Muhammad ibn Alawy al-Malikiy al-Hasani atau dikenal sebagai Sayyid Maliki, sejak kecil mempunyai himmah yang tinggi terhadap ilmu, pendidikan formal yang dia tempuh mengantarkannya sampai pada jenjang tertinggi di dunia pendidikan dan mengabdikan dirinya dengan mengajar. Beliau tercatat sebagai Profesor di Jami'ah Ummul Qura Makkah dan Jami'ah Malik Abdil Aziz Jeddah. Tidak hanya di dunia pendidikan formal, beliau juga berguru kepada banyak ulama' melalui pembelajaran islam klasik yang nasab ilmunya tersambung hingga Rasulillah SAW.

*Menjadi Guru di Masjidil Haram *
Pasca kematian sang ayah, Sayyid Maliki diminta untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pengajar di Masjidil Haram. Meneruskan tradisi belajar yang sudah berjalan ratusan tahun sepanjang sejarah peradaban Islam. Syed Maliki meninggalkan jabatannya di universitas untuk mewarisi apa yang sudah dilakukan ayahandanya. Semua gelar akademik dia lepaskan untuk mengabdikan diri pada sistem pendidikan islam klasik yang menjaga nasab ilmu agar tetap tersambung seperti mata rantai sampai nabi Muhammad SAW.

Menjadi pengajar di Masjidil Haram ternyata tidak mudah bagi beliau, fitnah dari pihak yang berseberangan pemahaman dengan beliau semakin menguat dan membuat keadaan tidak tenang. Sayyid Muhammad memilih mengalah untuk menjaga kedamaian di Masjidil Haram. Beliau mendirikan rubath di Rushaifah, daerah pinggiran kota Makkah.

Programnya ini dinamakan Masyru' al-Malikiy (Maliki Project), beliau mendirikan pusat pembelajaran keislaman dengan metode klasik. Berbagai muridnya pun berdatangan dari berbagai penjuru negeri muslim di dunia. Program pendidikan ini memakan waktu sepuluh tahun dari awal sampai akhir pembelajaran, kitab induk pembelajaran islam dikaji dari awal sampai akhir di sini dengan sistem talaqqi. Di tahun akhir pembelajaran, semua "mahasantri" diwisuda dengan pemberian sanad ilmu, dengan penyebutan urutan mata rantai pembelajaran dari Abuya Sayyid Maliki hingga Rasulillah SAW. Terutama dalam pembelajaran hadits, sanad dan matan harus dihafal, dan terus tersambung sampai Rasulillah.

Meski beliau bermadzhab Maliki, dalam pengajaran di Maliki Project semua madzhab dipelajari. Beliau tidak pernah menjadikan muridnya untuk menjadi penganut Madzhab Maliki.

Ada hal yang menarik di Masyru' al-Malikiy, pertama, semua mahasantri yang belajar di sini tidak akan mendapatkan gelar akademik bachelor, master, maupun doktor. Mereka belajar setara sampai pada level doktoral tapi tidak akan mendapat gelar, sama seperti ulama salaf yang tak bergelar dalam level pendidikannya. Bagi mereka yang mengejar gelar akademik, tempat ini bukan pilihan yang tepat.

Kedua, seluruh mahasantri dilarang keras memanggil Sayyid Muhammad al-Malikiy dengan panggilan Syaikh, Ustadz, Sayyid,  atau panggilan sejenis. Semuanya harus memanggil dengan panggilan Abuya (ayahku), hal ini adalah salah satu metode pengajaran, agar hubungan antara guru dan murid lebih dari sekedar hubungan transfer ilmu. Seluruh mahasantri tinggal dalam ribath bersama Abuya, mereka bertalaqqi dan bermulazamah dengan guru agar transmisi pembelajaran adab dan akhlak berjalan. Karena tak ada cara yang lebih efektif dalam pengajaran adab kecuali dengan mulazamah. Sama seperti yabg dikatakan mufasir dari zaman tabi'in Abdullah ibn al-Mubarak, "aku dua tahun belajar ilmu dengan guruku, 18 tahun belajar adab bersamanya".

*Guru Ulama Nusantara*
Pada dasarnya apa yang dilakukan adalah meneruskan tradisi keilmuan yang sudah terbangun sejak dahulu. Mahasantri yang datang ke tempat beliau  beberapa adalah warga indonesia, mereka belajar sebagaimana leluhur mereka belajar. Dahulu orang Indonesia juga pernah sampai menjadi pengajar dan imam di Masjidil Haram yang mulia, tercatat Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Yasin al-Fadani adalah satu di antara ulama nusantara yg gemilang di tanah suci. Mereka mengejar cahaya keislaman dan mengazamkan diri menjadi pewaris para nabi. Dan sampai hari ini metode klasik ini masih ada dan terus hidup.

Hari ini banyak alumni dari Maliki Project yang kembali ke Indonesia dan menjalankan aktivitas dakwahnya di berbagai tempat. Satu hal yang saya kagum dari mereka adalah kesabaran dan mujahadahnya dalam menuntut ilmu.  Sepuluh tahun belajar penuh, berangkat ga bergelar, pulang pun tak bergelar, cukup ilmu yang menguatkan iman yang mereka bawa, dan kembali ke tanah air dengan memulai semuanya dari nol.

Seminggu yang lalu, saya diundang dalam acara Halal bi halal Alumnus Maliki Project, mereka tergabung dalam wadah Hai'ah ash-Shofwah al-Malikiyah. Wajah teduh, tingginya ilmu, dan kelembutan akhlaq; membuat saya berasa ramahan rempeyek yang udah ditumbuk,terus ketiup angin...  #buuurr..

"Monggo duduk di depan saja, bib" pinta Syaikh Ruwaifi, salah satu murid kesayangan Abuya Muhammad sekaligus tuan rumah acara ini. Saya menolak, ga kelas banget duduk di barisan paling depan di antara para jebolan Maliki Project.

Dalam acara ini, acara intinya adalah mengenang kembali jasa guru mereka, mengisahkan biografi Abuya Muhammad, dan bertukar kabar project dakwah masing-masing.

Abuya Muhammad telah meninggal tahun 2004, Maliki Project sampai hari ini masih tetap berjalan, dilanjutkan oleh putra beliau, Sayyid Ahmad ibn Muhammad al-Malikiy. Semoga Allah berikan mereka semua keberkahan dalam menjaga cahaya keislaman, karena merekalah pewaris nabi.

Semoga kita pun bisa mengambil ilmu dari para pewaris nabi.. Aamiin

Fahmi Basyaiban,
01 Agustus 2016.

Sunday, July 3, 2016

Masjid Melahirkan Masjid


Maulana ibn Abdussalim, ulama berdarah Arab yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pandanaran memulai pembangunan masjid Agung Kauman dengan sederhana di pertengahan abad 16.  Adipati Suradimanggala (Kiai Terboyo) tercatat pernah merenovasi masjid ini setelah terbakar karena tersambar petir. Masjid itu kini memiliki keberkahan (ziyadah al-khair) yang terus bertambah, 5 abad lebih dari kehadirannya, ia terus lahirkan kebaikan yang berlapis.

Kegiatan Syiar bulan ramadhan di masjid ini selalu hidup, menjelang waktu berbuka, kajian keislaman rutin diselenggarakan. Makanan pendamping buka puasa juga hadir untuk melayani jamaah yang ingin buka puasa di masjid ini. Ada makanan khas dan mungkin susah ditemukan di tempat lain, setiap jamaah dapat satu gelas bubur ketan dengan kuah kental berwarna coklat keruh. Rasanya khas, ketika saya mencicipinya aroma rempah langsung memanjakan lidah dan tenggorokan. Perpaduan antara bubur kental, jahe, kapulaga, dan manis yang pas itu jadi paduan yang khas dan nikmat. *setidaknya itu dari penilaian lidahku yang sudah berada di level penguji organoleptik..  #tsah #haha

Tidak seperti masjid lain yang pada umumnya mengandalkan infaq jamaah untuk menjalankan aktivitas pengelolaan masjid, masjid agung kauman punya unit bisnis yang bisa dibilang cukup besar dan "wow"  di mata saya. Masjid Ini punya tanah wakaf puluhan hektare yang dimanfaatkan untuk bisnis, baik itu sebagai sawah maupun properti. Masjid ini juga punya unit bisnis SPBU di Semarang, SPBUnya pun besar dan lengkap dengan sarana pendukungnya. Keuntungannya digunakan untuk aktivitas syiar masjid dan diputarkan kembali dalam unit bisnisnya. Berapa asetnya? Saya tidak tau persisnya, yang jelas pasti sudah menyentuh angka lebih dari 2 Milyar.

Masjid Agung Kauman Semarang ini pun tercatat melahirkan Masjid lain yang lebih besar. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang masyhur sebagai landmark kota semarang dengan halaman masjid yang khas menyerupai masjid Nabawi itu dibangun di atas tanah wakaf Masjid Agung Kauman dengan luas tanah wakaf 10 hektare. Pembangunannya bekerjasama dengan pemerintah provinsi Jawa Tengah pada era gubernur H. Mardiyanto. Silakan googling sendiri tentang megahnya MAJT... #hehe

Kebaikan akan menemukan jalannya sendiri menjadi kebaikan yang lebih besar. Masjid sederhana dibangun dari 5 Abad yang lalu, dari sebuah kebaikan niat yang sederhana, kebaikannya terus bergulir lahirkan kebaikan dan keberkahan berlapis yang mungkin tak akan disangka siapapun sebelumnya.

"jangan pernah kapok untuk jadi orang baik".

Salam,
29 Ramadhan 1437
@fahmibasyaiban


Thursday, June 2, 2016

PULANG KAMPUNG DAN SENAM TAISO

Pemandangan yang terlihat setiap hari. Sindoro, Sumbing, dan Dataran TInggi Dieng

Akhir bulan February, saya diminta ibu untuk pulang kampung, pulang sepenuhnya tanpa kembali ke Jogja. Permintaan itu punya konsekuensi, saya harus melepas semua hal yang mengikat saya di Jogja. Saya harus berhenti dari pekerjaan yang sudah saya geluti dua tahun di jogja, melepas semua jejaring yang sudah terbangun tujuh tahun terakhir, berpisah dengan rekan dan guru-guru, juga berlepas dari indahnya Jogja dengan segala macam keistimewaannya.

Berat? Iyalah.. Saya harus kembali ke Semarang (Semarang coret, tempat tinggal saya dah masuk Kab. Kendal, tapi lebih dekat ke Semarang). Hal yang selalu terlintas di pikiran adalah, Apa yang bisa saya lakukan ketika pulang ke rumah? Tanpa jejaring dan akses semudah sebelumnya, masa transisi akan terasa berat. Karena  membangun jejaring seperti saat di jogja itu ga semudah dan sesingkat yang dibayangkan. Dan keputusan pun dibuat, saya jadi pulang dengan masih membawa sedikit peluang bisa kembali lagi ke Jogja.

Saya pulang untuk operasi pengangkatan plate yang sudah tertanam di bahu sebelah kanan kurang lebih satu tahunan. Kurang lebih satu minggu mengurus administrasi dan uji lab beberapa kali,  hari penjadwalan operasi sudah keluar. 11 Maret, saya menjalani operasi di RSUD Dr. Suwondo, Kendal.  Operasi berjalan lancar dan plate sepanjang 14 sentimeter dengan 7 screw tercabut dari bahu. Cukup lega dengan lancarnya operasi, bahu jadi terasa lebih enak dengan tidak adanya logam yang menempel di bahu. Selama satu bulan pasca operasi, kegiatan rutin saya hanya recovery dan berkunjung ke dokter, sambil mikir dan mentransisikan diri di lingkungan baru. Sempat juga ada niat untuk kembali ke Jogja, tapi saya ga sanggup nolak permintaan ibu saya lagi, karena sebenarnya saya sudah di suruh pulang sejak lulus kuliah, berkarya di sekitar rumah, dan menemani ibu yang lebih tenang jika anak lelaki tertuanya di rumah; mengambil alih posisi kepala keluarga de facto dan de jure.

Jejaring yang saya akses pertama kali adalah KAGAMA Kendal (keluarga alumni gadjah mada), kebetulan saya kenal dan pernah berdiskusi dengan ketuanya. Setelah berdiskusi dengan ketuanya langsung, saya sedikit tahu tentang daerah saya, baik kondisi politik, masyarakat, dan kondisi ekonominya. Dari situ saya jadi tahu, bahwa banyak sekali hal yang ga beres di Kendal. 

Dari diskusi itu akhirnya lahir sebuah komunitas "cendekia"  kendal, anggotanya adalah orang-orang yg terlahir di kendal maupun yang sudah pulang ke kendal, ada dosen, pejabat pemda, dll.. Ga terbatas dari alumni UGM saja.  Komunitas ini dinamai "Kaukus Cendekia Muda Kendal". Dengan bisa mengakses jejaring ini, setidaknya saya bsa agak senang, setidaknya bisa ketemu orang-orang yang sepemikiran dan "mau"  untuk do something.

Senam Taiso
9 Mei, mulai tanggal itu saya punya aktivitas rutin setiap paginya. Setiap pagi saya harus ikutan senam Taiso,  salah satu senam dengan iringan piano dari negeri Sakura. Singkat cerita, dalam proses transisi di rumah, dalam hal ini transisi pekerjaan, saya berlabuh ke sebuah perusahaan manufaktur Jepang. Perusahaan ini lokasinya tidak jauh dari rumah, hanya 15-20menit dari rumah. Perusahaan ini level direksi hampir semuanya orang jepang. Satu hal yang cukup unik adalah semua karyawan diwajibkan senam taiso 5 menit sebelum jam kerja di mulai. Jadilah Taiso sebagai keseharian yang harus saya lakukan.

Bergabung ke perusahaan dengan tagline "For Earth,  For Life" ini juga hal yang saya syukuri, karena secara visi dan pengelolaan manajemen perusahaan sejalan dengan pikiran dan nilai yang saya yakini dari proses pendidikan yang sudah berjalan.

Halaman Depan Kantor

Dari cerita di atas, saya ingin sedikit berbagi bahwa transisi dari satu pekerjaan dan lingkungan lama ke lingkungan baru itu ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Dan yang paling susah adalah membangun jejaring dan akses di tempat baru, karena tanpa itu semua,  akan agak susah untuk do something great.
Transisi pekerjaan pun biasanya jadi hal yang dikhawatirkan, karena ga semua orang bisa melewatinya dengan cepat. Beberapa kawan saya ada yang 6 bulan sampai satu tahun untuk berhasil mentransisikan diri ke pekerjaan baru. Saya cukup beruntung banget, bsa lompat ke pekerjaan baru dalam tempo yang relatif singkat. Alhamdulillah... 

Satu hal yang paling penting, ridho dan doa orang tua itu ternyata jadi salah satu kunci. Kadang permintaan orang  tua itu terasa aneh bagi pikiran kita, tapi sepanjang itu tidak mengarah pada kemaksiatan, sebisa mungkin kita coba turuti. (khusus bagian ini mudah ngomongnya,  ngelakuinnya susah). Penolakan saya di awal terhadap permintaan orang tua, jika dipikir dan ditulis di atas kertas akan mengarah pada kesimpulan; saya lebih bisa berkembang dengan bertahan di Jogja. Tapi kenyataannya tidak demikian, dengan mencoba menurut orang tua, Allah takdirkan dan hadirkan rezeki dan kemudahan yang tidak disangka. Saya bisa tetap produktif, menemani orang tua, dan punya lahan kontribusi di tempat baru.

Semoga bermanfaat dan semoga berkah di manapun kita berkarya..
Salam,

Fahmi Basyaiban
1 Juni 2016.

Thursday, February 25, 2016

(Per) Jodoh (an)


 Menjadi seseorang yang memiliki latarbelakang suku dengan serangkaian system kekeluargaan bagi sebagian orang dipandang sebagai sebuah beban dan bentuk dari keterbelakangan yang perlahan harus diubah dan disesuaikan dengan zaman. Dalam system kekeluargaan atau kesukuan realitas aturan ini sering dijumpai dalam masalah pernikahan, baik aturan sebelum dilakukannya pernikahan maupun aturan saat pernikahan berlangsung. Dalam hal ini saya akan berbagi sedikit tentang system perjodohan yang masih dipertahankan oleh banyak suku dibelahan dunia, dalam hal ini saya lebih spesifik akan bahas di komunitas Arab Hadrami di Indonesia, saya pakai istilah yang juga dipakai Jacobsen yang disebut An Indonesian Orientation group with Arabic signature..

Sebelumnya dalam komunitas Arab Hadrami Indonesia terbagi menjadi dua golongan besar, golongan pertama adalah yang disebut golongan sayyid atau habaib, golongan ini merupakan keturunan dari Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibn Alwi yang nasabnya tersambung ke cucu Rasulullah Husein ibn Ali ibn Abi Thalib radliyallahu anhum, keturunannya disebut Ba’Alawiy atau ‘Alawiyyin. Dalam perjalanannya orang-orang ‘Alawiyyin terbagi menjadi klan-klan kecil yang memiliki nama tersendiri dalam setiap keluarga misal, al-Attas, al-Habsyi, as-Saggaf, dll. Golongan kedua adalah golongan Arab Hadrami non-sayyid, mereka adalah orang Arab asli Hadramaut-Yaman yang tidak memiliki nasab ahlul bait sampai pada Rasulullah saw. Golongan ini juga memiliki marga dengan nama klan masing-masing misal, al-Kathiri, Bawazier, Bakathie, Bassalamah, dll.

Dalam realitas sosialnya hari ini keduanya memiliki kecenderungan system yang sama dalam hal pernikahan. Pernikahan endogamy dengan sesama strata dan dari golongan yang sama menjadi sebuah aturan tidak tertulis dalam komunitas ini yang sudah berlaku sejak beberapa abad yang lalu, dan saat ini masih tetap berlaku setelah kelompok diaspora hadrami berkembang di Indonesia dan tempat lainnya di dunia.

Dari kedua golongan Hadrami tersebut saya termasuk golongan pertama, otomatis saya kena aturan di atas juga. Dalam hal ini, pernikahan endogamy biasanya secara diteknis diatur oleh orang tua yang melakukan semacam system perjodohan antar keluarga yang masih termasuk dalam Bani Alawiy.
Dalam beberapa tahun ke belakang, saya menganggap pernikahan endogamy ini sebagai system kesukuan untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga, dalam hal ini yang dianggap berharga adalah nasab (garis keturunan) yang bersambung hingga cucu Rasulullah. Dalam golonngan arab non-sayyid untuk mempertahankan identitas kesukuan arab mereka. Sampai batas ini saya masih setuju, namun untuk system perjodohan yang berlaku, saya punya pandangan berbeda. Mungkin karena jenjang pendidikan yang ditempuh dan komunitas tempat saya bergaul selama ini mempengaruhi preferensi saya dalam memandang masalah ini. Memilih jodoh itu sebuah hak merdeka dari sebuah yang tidak perlu diatur sedemikian rupa oleh orang tua, karena yang akan menjalaninya bukanlah orang tua.

Preferensi saya dalam memilih pasangan pun akhirnya mengarah para orang yang memiliki pemahaman keagamaan, strata pendidikan, cara pandang dan berpikir, dan visi hidup yang sama. Hal ini diperbolehkan oleh ibu saya dengan memberi catatan “harus tetep Alawiyyin”. Pada kenyataannya mencari pasangan hidup dengan secara mandiri dengan preferensi pribadi dan ditambah syarat dari orang tua tidak semudah yang dipikirkan. Saya tidak sebebas teman-teman saya yang tidak diikat oleh aturan kesukuan yang ketat dalam memilih pasangan hidup.  

Pada akhirnya saya pun menyerah dalam urusan mencari jodoh secara mandiri, dan mengembalikan urusan ini sepenuhnya ke ibu saya, kembali ke system perjodohan yang sudah berlaku beratus tahun lalu. Pandangan saya berubah tentang system perjodohan, saya memiliki keyakinan filter orang tua dalam memilihkan pasangan untuk anaknya adalah filter terbaik, karena tidak mungkin orang tua menghendaki sesuatu yang tidak baik untuk anaknya, apalagi orang tua yang memiliki pemahaman keagamaan yang cukup, meski nanti keputusan akhirnya berada pada pribadi masing-masing.
Hal yang sama ternyata dialami oleh kawan saya sesama Arab Hadrami Indonesia yang akan menikah beberapa bulan lagi. Awalnya dia mencoba mencari dengan preferensi sendiri, namun selalu menemui ketidakcocokan. Pun akhirnya dia kembalikan ke system yang sudah berlaku sekian abad dengan orang tua sebagai pemberi preferensi pertama. Qadarullah sekali ditunjukkan keduanya cocok dan sepakat untuk menikah.

Dalam hal ini saya menyadari bahwa sebenarnya sistem kesukuan yang dibuat sedemikian rupa berates tahun lalu, bukanlah sebuah hal yang dipandang sebelah mata, kuno, terbelakang dan tidak modern. Ada unsur kebaikan yang diperjuangkan melalui sistem tersebut, hanya saja sebagai orang yang hidup di masa sekarang harus melacak dan berpikir sejenak untuk menemukan unsur kebaikan dalam sistem tersebut.

Menikah bukanlah sebuah tujuan dari sebuah perjalanan kehidupan, tetapi merupakan sebuah awal dari sebuah fase kehidupan seorang manusia. Dan Allah akan mempertemukan jodoh antar manusia sesuai dengan visi hidup yang mereka yakini dan kecocokan jiwa yang Allah sudah pertemukan jauh sebelumnya. Maka jangan pernah berburuk sangka sedikitpun terhadap Allah tentang perkara jodoh.

Wa Allahu musta’an